Aplikasi Pencari Hantu
Di Sabtu pagi yang cerah, Simon baru saja menerima hadiah dari ibunya. Ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-16. Dia sangat senang karena dia mendapatkan handphone sebagai kado ulang tahunnya. Dia sudah sangat mendambakan untuk mempunyai handphone sejak lama. Ibunya memberi dia handphone dikarenakan tidak lama lagi, Simon akan pergi merantau untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat SMA.
Simon tinggal di pedesaan kecil dimana tidak terdapat SMA, hanya ada SD dan SMP. Jadi, semua anak-anak di pedesaan akan selalu pergi merantau untuk dapat bersekolah di SMA. Tidak terlalu banyak rumah terdapat di desa Simon tinggal. Hanya ada sekitar 30 rumah secara keseluruhan. Semua rumah ini berbaris rapi saling berhadapan di tengah hutan. Jadi, hanya terdapat hutan di sekeliling perumahan. Untuk saat ini hanya terdapat lima orang anak-anak di desa tempat Simon tinggal, karena yang lain sudah pergi merantau.
Simon adalah yang tertua diantara mereka. Sebagai yang tertua, Simon selalu menjadi ketua diantara mereka. Simonlah yang selalu menentukan permainan apa yang akan mereka permainkan, dimana mereka akan bermain, dan kapan harus selesai bermain. Anak-anak yang lain hanya akan mengikuti perkataan Simon. Pada saat Simon telah mempunyai handphone dia mengumpulkan teman-temannya untuk bermain sekaligus memamerkan handphone barunya. Mereka menonton video, bermain games, dan melakukan banyak hal dengan handphone Simon.
Pada saat mereka menonton video tiba-tiba ada iklan yang mengiklankan aplikasi pencari hantu. Melihat itu Simon mempunyai ide untuk bermain mencari hantu dengan menggunakan aplikasi itu. Dia pun mendownload aplikasinya dan meminta teman-temannya untuk datang ke rumahnya malam nanti setelah makan malam, karena berhubung hari sudah magrib. Para orang tua sudah memanggil anak-anaknya pulang untuk mandi dan makan.
Malam pun tiba, karena rumah mereka berdekatan dan berhubung saat itu adalah malam minggu. Semua anak-anak diperbolehkan keluar dan berkumpul di rumah Simon. Setelah semuanya berkumpul, Simon pun memberitahukan apa yang akan mereka permainkan saat ini. Simon berkata bahwa mereka akan memburu hantu dengan menggunakan aplikasi yang sudah didownload olehnya. Awalnya sebagian dari mereka menolak, terutama Budi. Budi merupakan teman Simon yang paling dekat karena umur mereka hanya selisih satu tahun dan rumah mereka adalah yang paling dekat. Budi berkata permainan itu terlalu menakutkan apalagi saat ini sudah malam. Tetapi Simon membujuk mereka dengan berkata ini akan menyenangkan, kita hanya akan mengikuti titik-titiknya dan melihat apakah benar terdapat hantu di titik tersebut. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya mereka pun setuju.
Simon kemudian membuka aplikasinya dan menekan tombol untuk memulai pencarian. Aplikasinya bekerja seperti radar, aplikasinya melakukan scan di lokasi sekitar. Sembari menunggu, situasi pun sangat hening karena semuanya fokus melihat layar handphone. Ketika Budi hendak berkata sebaiknya berhenti saja, tiba-tiba ada titik yang muncul, titiknya berada tidak jauh dari mereka. Mereka mengikuti titiknya dan berhenti di rumah Pak RT. Mereka melihat ada pohon besar di depan rumah pak RT. Simon berkata hantunya pasti ada di pohon ini, tak heran kenapa pohon ini terlihat angker. Tiba-tiba ada suara air mengalir dan gemercik air terkena kepada mereka. Mereka pun takut dan berteriak. Pada saat mereka berteriak, terdengar pula ada teriakan lain dibalik pohon. Ternyata itu hanya Pak RT yang sedang kencing di balik pohon. Pak RT pun memarahi mereka dan menyuruh mereka pulang. Pada saat mereka mau pulang mereka tertawa terbahak-bahak. Karena awalnya menyenangkan, Simon pun meminta mereka untuk tidak segera pulang. Dia mengajak mereka untuk mencari hantu lagi. Mereka pun bermain sampai larut malam, mereka menemukan banyak titik dan selalu memeriksa setiap titik. Tetapi mereka tidak pernah menemukan apa pun. Semua titik yang mereka temukan hanya berada di sekitar lokasi perumahan. Tiba-tiba ada titik merah yang muncul di layar handphone. Lokasinya menunjukkan ke jalan masuk menuju hutan. Biasanya titik-titik yang muncul adalah titik kecil berwarna putih, ini adalah pertama kali ada titik besar berwarna merah muncul dalam radar aplikasi tersebut. Simon pun mengajak mereka untuk pergi memeriksanya, tetapi mereka semua takut. Karena Hutan terlihat sangat gelap dan menyeramkan. Simon juga sebenarnya merasa takut, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Jadi, dia bersikeras untuk pergi ke sana dan memaksa mereka ikut. Karena sudah terbiasa mengikuti perkataan Simon, mereka pun akhirnya mengikuti Simon.
Sesampainya di jalan masuk ke hutan, mereka melihat titik besar berwarna merah itu berpindah-pindah. Mereka pun mengikutinya, mereka terlalu fokus mengikuti radar sampai tak sadar mereka sudah masuk ke dalam hutan. Tak lama kemudian titik itu pun akhirnya berhenti dan tiba-tiba menghilang dari layar. Setelah kehilangan titik dari layar, mereka pun sadar kalau mereka sudah berada di tengah hutan. Dan tiba-tiba terdengar suara kayu patah dengan sangat keras diikuti teriakan tangisan. Sontak mereka pun langsung lari ketakutan. Mereka berlari sambil berteriak dan langsung pulang ke rumah masing-masing.
Pagi pun tiba, Simon bangun dari tidurnya. Tiba-tiba dia merasa sakit perut dan pergi ke toilet untuk BAB. Di toilet terdapat jendela yang terbuka menghadap ke arah jalan masuk ke hutan. Sambil BAB, Simon memandang ke arah hutan. Terlihat ada seseorang melambaikan tangan kepadanya dan bergerak seolah mengajak Simon untuk datang ke sana. Simon tertegun akan apa yang dia lihat, dia mengucek matanya hendak memastikan apakah yang dia lihat itu nyata. Karena dia merasa tidak mungkin ada anak-anak seusianya berada di hutan pagi-pagi sekali. Dia pun segera menyelesaikan BAB-nya dan pergi ke arah jendela agar ia dapat melihat orang tersebut lebih jelas dan sosok tersebut tetap berada di sana dan meminta Simon untuk datang. Tapi tiba-tiba Simon kaget, karena ibunya mengetuk pintu kamar mandi dan berteriak supaya ia segera keluar dari kamar mandi. Ketika hendak keluar dia melihat lagi ke arah jendela, tetapi tidak terlihat apa pun lagi.
Simon pun keluar dari kamar mandi dan tidak memedulikan kejadian itu karena dia merasa mungkin itu hanya halusinasinya saja. Selesai makan pagi, Simon pun duduk santai sambil memainkan handphone-nya. Sementara ibu dan ayahnya pergi ke rumah tetangga. Jadi, hanya ada Simon sendirian di rumah. Saat fokus menonton video, terdengar suara ketukan di pintu depan. Simon pun membuka pintu, ternyata itu adalah Budi. Budi mengajak Simon untuk bermain dengannya mencari hantu lagi. Simon sedikit bingung karena dia tahu kalau Budi tidak begitu menyukai permainan tersebut dan waktu masih terlalu pagi untuk bermain tetapi dia menyetujuinya karena dia juga merasa bosan sendirian di rumah. Dia pun meminta Budi menunggu agar Simon pergi mengajak anak-anak yang lain. Tetapi Budi menolak dan meminta untuk kali ini cukup hanya mereka berdua saja agar lebih menyenangkan. Simon merasa semakin aneh tetapi karena Budi adalah sahabatnya dia pun menyetujuinya.
Simon membuka aplikasi dan mulai mencari. Titik besar berwarna merah kembali muncul di layar handphone dan lokasinya juga menunjuk ke arah yang sama yaitu di depan jalan masuk ke hutan. Simon merasa ketakutan apalagi ketika dia mengingat kejadian tadi pagi. Dia pun meminta Budi agar berhenti bermain dan menceritakan bahwa dia melihat sosok yang menakutkan di sana. Tetapi Budi berkata bahwa itu mungkin hanya halusinasi Simon saja, dan berkata kepada Simon apa dia tidak penasaran apa yang berada di titik merah tersebut dan suara apa yang mereka dengar semalam. Karena selalu didesak oleh Budi, Simon akhirnya pergi ke arah hutan.
Setelah berada di depan jalan masuk menuju hutan, Simon meminta Budi untuk berhenti sekali lagi. Tapi Budi bersikeras ingin masuk, dia berkata mereka harus mengecek titik merah itu karena titik merah sangat jarang muncul dan berkata bahwa semalam mereka juga sudah dari situ dan tidak ada apa-apa, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Mereka pun melanjutkan pencarian mereka, kejadiannya sama seperti semalam, titik merahnya selalu bergerak. Simon sangat fokus melihat handphone-nya karena dia tidak ingin kehilangan jejak seperti semalam lagi. Akhirnya titiknya pun berhenti. Simon berkata kepada Budi kalau titiknya sudahberhenti dan meminta Budi untuk mengecek sekitar. Simon berbicara kepada Budi tanpa melepas pandangannya dari layar handphone. Tiba-tiba handphone Simon berbunyi, ada panggilan masuk dari orang tuanya. Simon merasa sangat kesal karena dia tidak dapat memperhatikan titik merah itu lagi. Dia pun mengangkat panggilan ibunya dan berkata agar jangan mengganggu karena dia sedang sibuk bermain. Tetapi, dia tiba-tiba tertegun dan keringat dingin mendengar apa yang ibunya katakan. Ternyata ibunya sedang menangis dan berkata sedang di rumah Budi. Semua keluarga Budi dan penduduk desa sedang mencari Budi karena Budi belum pulang sejak semalam. Simon akhirnya tersadar bahwa di depannya terdapat mayat Budi yang sudah putih pucat dan terlihat kaku dengan kaki yang tertusuk kayu. Ternyata teriakan semalam adalah teriakan Budi yang merintih kesakitan karena tertusuk oleh kayu.
Komentar
Posting Komentar